Archive for the 'Artikel' Category

Fakta-fakta Seputar Menyusui Batita

Copas  : http://lsoraya.multiply.com/journal/item/3/Fakta_seputar_menyusui_batita

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I)

Hingga saat ini banyak sekali anggapan miring ttg ibu yang menyusui anaknya > 1th. Sering kita dengar kalimat ”Kalo anak > 1 th kan dah jelek ASInya”. Atau tak jarang juga terdengar kalimat ”Kalau disusui terus anak jadi manja dan gak mandiri”. Nah benarkah hal ini ?

Artikel berikut dirangkum dari beberapa artikel dari La Leche League dan WHO tentang fakta-fakta seputar menyusui anak batita ( hingga umur 3 th).

Ternyata anggapan2 bahwa ASI gak bagus, nyusui anak besar bisa membuat jadi manja dan gak mandiri tsb TIDAK BENAR.

Menyusui batita memiliki manfaat bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi ibu.

Bahwa ternyata kandungan ASI > 1 th memiliki kandungan yang luar biasa bermanfaat utk anak. Yg jelas, ASI tetap memiliki zat imun yang melindungi bayi dari berbagai penyakit. Bahkan satu penelitian menunjukkan bahwa beberapa zat imun meningkat jumlahnya dalam ASI di th keduam sehingga memberikan perlindungan yg lebih besar bagi anak.  Belum lagi kandungan gizinya. Pada tahun kedua (12-23 bulan), setiap 448 ml ASI memenuhi kebutuhan anak :

o       29% dari kebutuhan energi-nya

o       43% dari kebutuhan protein-nya

o       36% dari kebutuhan kalsium-nya

o       75% dari kebutuhan vitamin A

o       76% dari kebutuhan folat-nya

o       94% dari kebutuhan vitamin B12

o       60% dari kebutuhan vitamin C

Nah manfaat buat ibu gimana ? Banyak para ahli medis menbuktikan bahwa menyusui dapat memberikan ibu proteksi dari berbagai penyakit. Makin lama ibu menyusui, makin besar proteksi yg diberikan. Ibu dapat terminimalisasi dari resiko terkena kanker payudara, kanker ovarium (indung telur), kanker uterine (rahim), osteroposis, dsbnya.

Benarkah jika anak disusui terus menerus akan membuat ia jadi manja dan gak mandiri ?

Ini juga sama sekali TIDAK BENAR. Justru anak-anak yg disusui hingga ia berhenti sendiri (menyapih dirinya sendiri) lebih mandiri.

Kenapa ? karena ia menemukan sendiri kemandiriannya. Ia merasa lebih nyaman dalam menemukan fase tsb. Ingat loh fase psikologis usia batita itu buat anak2 terkadang “mengerikan”. Ia harus belajar utk menerima kondisi di sektiarnya. Dengan menyusui, akan memudahkan anak menghadapi fase tsb dg lebih mudah.

Terkadang juga kita memaksakan anak utk mandiri lebih cepat dari biasanya. Padahal di usia ini justru ia butuh ibunya dan ayahnya utk membantunya menemukan rasa percaya dirinya dsbnya.

Jadi menyusui di usia ini justru memenuhi kebutuhan psikologisnya.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan : “Susuilah anak di tahun pertamanya dan susuilah terus selama ibu dan anak saling menginginkan…Makin lama ibu menyusui anaknya, makin memberikan keuntungan bagi ibu dan anak dari segi kesehatannya dan perkembangannya……Tidak ada batasan pasti kapan anak harus berhenti menyusu dari ibunya. Dan TIDAK ADA BUKTI bahwa menyusui anak-anak > 3 th akan membuatnya terganggu secara psikologis ataupun.” (AAP 2005)

Nah kapan anak sebaiknya disapih ? Lagi-lagi ini pilihan yg sangat subyektif. Semua bergantung kepada 3 pihak : ibu-anak-ayah. Selama semua pihak saling menginginkan maka menyusui dapat terus dilakukan. Jika memutuskan utk menyapih, maka lakukanlah dg perlahan dan baik. Hindari penyapihan yg dapat menyakiti hati anak. Ingat selama masa menyusui, terjalin ikatan batin yg kuat antara ibu-anak. Jangan sampai hal ini ”rusak” karena proses penyapihan ini.

Referensi :

–      Breastfeed a Toddler—Why on Earth? Handout #21. Toddler nursing. January 2003 by  Jack Newman, MD, FRCPC

(http://www.kellymom.com/newman/bf_toddler_01-03.html)

–      La Leche League International, What are the benefits of breastfeeding my toddler? (http://www.lalecheleague.org/FAQ/advantagetoddler.html)

–      Extended Breastfeeding Fact Sheet by Kelly Bonyata, BS, IBCLC (http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html)

–      Nursing Past Infancy and Into Toddlerhood (http://www.breastfeed-essentials.com/nursetoddler.html)

Manfaat Besar ASI di Tahun Kedua

Anda sukses menyusui eksklusif untuk buah hati selama enam bulan dan meneruskannya hingga si kecil berusia satu tahun. Setelah itu Anda merasa cukup dan akan menyapihnya alias menggantikan ASI dengan susu formula. Sebaiknya tunda dulu keinginan ini karena pemberian ASI di tahun kedua kehidupan bayi memberi manfaat ekstra.

 

Saat menginjak tahun kedua, kemampuan bayi berkembang, seperti merangkak atau belajar berjalan dan memasukkan segala sesuatu ke mulutnya. Akibatnya, bayi akan mudah mengalami infeksi penyakit. Makanya, disarankan ibu tetap menyusui bayi setelah ulang tahunnya yang pertama untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya terhadap serangan virus dan bakteri penyebab penyakit.

UNICEF merekomendasikan selain pemberian makanan bergizi seimbang dan imunisasi, bayi usia 12-24 bulan disusui sesering mungkin. Tentu ada alasan kuat kenapa para ibu diimbau untuk menyusui bayinya memasuki tahun kedua. Berikut manfaatnya:

 

1. ASI di tahun kedua kandungan faktor imunitasnya meningkat

Penelitian menyebutkan zat antibodi tersedia dalam jumlah besar pada ASI selama masa menyusui. Tapi ternyata sebagian faktor kekebalan dalam ASI konsentrasinya meningkat selama tahun kedua dan selama proses penyapihan (weaning).

2. Pemberian ASI setelah bayi 6 bulan cegah risiko alergi dan asma

Salah satu cara terbaik mencegah alergi dan asma adalah menyusui eksklusif selama enam bulan dan meneruskannya hingga si kecil berusia 2 tahun. Memperpanjang pemberian ASI berarti menunda selama mungkin bayi bersinggungan dengan zat penyebab alergi. ASI sendiri membantu mempercepat pematangan lapisan pelindung dalam usus bayi, melapisi usus bayi dan menghalangi masuknya molekul penyebab alergi ke dalam darah bayi serta memberi perlindungan antiradang sehingga menekan risiko infeksi pemicu alergi

3. ASI perkecil risiko sakit anak usia 16-30 bulan

American Academy of Family Physicians melihat anak-anak yang disapih sebelum usia dua tahun meningkat risikonya (AAFP 2001). Penelitian lain menyebutkan anak usia 16-30 bulan yang disusui lebih jarang sakit, kalaupun sakit maka sakitnya lebih singkat dibanding anak sebaya yang tidak disusui

4. ASI dibutuhkan anak yang sakit

UNICEF merekomendasikan anak di bawah tiga tahun yang sakit agar diberi ASI, karena ASI merupakan makanan bergizi yang paling mudah dicerna saat si kecil kehilangan nafsu makan

5. ASI di tahun kedua lebih kaya nutrisi

Penelitian dr. Dror Mandel, dkk, menyatakan ASI dari ibu yang menyusui lebih dari satu tahun kandungan lemak dan energinya meningkat dibanding ASI dari ibu yang menyusui lebih singkat

6. ASI di tahun kedua sumber lemak dan vitamin A tak tergantikan

Berdasar penelitian Adelheid W. Onyango dkk menyimpulkan ASI merupakan sumber lemak dan vitamin A yang tak tergantikan oleh makanan sapihan apapun

 

 

Sumber : http://www.hanyawanita.com/_mother_child/parenting/article.php?article_id=7388

 

 

Kapan O’i mau sekolah ??

Jul 2007 19:20:34 -070

TANDA-TANDA SIAP MASUK TK

Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.

M asuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui
sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung, kan?

Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti dipaparkan Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di Negeri Jakarta.

1. KESIAPAN FISIK

Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal, anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola,
bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar bola.

Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya, bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak, selanjutnya harus dikembangkan di TK.

Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang
bagus.

2. KESIAPAN EMOSIONAL

Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak, ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.

Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.

Hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan, berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak
cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan, bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.

3. KESIAPAN KOGNITIF

Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut.
Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup untuk seusianya.

Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK.
Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum
bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.

Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya, kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.

Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca -tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh,
mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.

4. KESIAPAN SOSIAL

Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak “pelajaran” dari guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.

Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih
menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila bertemu teman-teman baru.

AGAR ANAK LEBIH SIAP MASUK SEKOLAH

* Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik. Di sana banyak mainan sehingga bisa bermain bersama teman-teman. Gambar-gambar di dinding kelasnya juga lucu-lucu.

* Di sisi lain, orang tua juga mesti menjelaskan konsekuensinya. Contoh, karena bermain bersama teman-teman, maka ia harus mau bergantian, juga patuh pada guru, dan tertib.

* Jelaskan pula kenapa ia “harus” masuk TK, apa tujuannya, dan apa saja yang akan didapat di TK. “Dengan sekolah di TK, Kakak akan banyak teman dan belajar banyak. Kan, Kakak katanya mau jadi anak pintar,” misal.

* Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di TK, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi murid atau sebaliknya. Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan permainan-permainan yang sering diajarkan di TK. Dengan cara demikian, kita telah menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.

Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila
perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi
saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.
ANAK SAYA, KOK, ENGGAK SIAP JUGA?

Bagaimana kalau si kecil ternyata belum siap masuk TK? Misal, sudah umur 5 tahun tapi masih enggan bersosialisasi alias masih takut ketemu orang. Dalam hal kemandirian, menurut Bambang, orang tua hendaknya jangan buru-buru
memvonis anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena ia selalu menangis setiap kali masuk kelas. “Kecemasan-kecemasa n seperti itu lumrah terjadi pada anak, meski banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi.”

Untuk itu, lanjutnya, orang tua harus bisa membujuk anak. Contoh, “Katanya Kakak mau jadi anak pintar, kok, enggak mau sekolah. Ada apa?” Bila ia menjawab takut, orang tua bisa melakukan bargaining dengan anak, semisal,
berjanji menemaninya, “Oke, deh, sekarang Bunda ikut temani kamu di kelas.”
Selama beberapa hari, orang tua boleh menemani anak di kelas. Setelah itu perlahan-lahan waktu bersama anak dikurangi sampai akhirnya orang tua hanya mengantar dan menjemput.

Bambang mengingatkan, dunia anak adalah dunia bermain. Karenanya, begitu anak bertemu dengan teman sebaya yang asyik bermain, apalagi ditambah permainan yang banyak di kelas, anak-anak yang tadinya pemalu pun akan lumer dan membaur bermain. “Prinsipnya, jangan karena enggak bisa ditinggal lalu anak ‘diperam’ terus di rumah. Nanti malah terhambat sosialisasinya. Usianya makin tinggi tetapi kematangan emosionalnya tidak tumbuh juga. Lebih baik cemplungkan saja tetapi lakukan secara bertahap.”

Tentunya orang tua jangan segan-segan untuk memberi tahu guru mengenai kondisi anak kita. Misalnya, anak sangat pemalu, guru bisa menciptakan suasana yang hangat dan akrab baginya. “Lama-lama anak akan merasa, ‘Oh, sekolah itu ternyata menyenangkan. ‘ Akhirnya, tanpa dibangunkan pun, ia akan segera sigap berangkat ke sekolah.”

Juga bukan berarti bila ada kekurangan di aspek lain, orang tua jadi minder memasukkan anaknya ke TK. “Justru dengan memasukkan ke TK, orang tua dan guru akan bersama-sama menambah kekurangan itu dan mengembangkan potensi yang sudah ada. Sekali lagi, dengan cara bermain dan tanpa paksaan.”

PENDIDIKAN DI TK SANGAT BERMANFAAT

Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak manfaatnya. “Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti peraturan, tata tertib, dan disiplin disiplin yang diberikan,” papar Bambang.

Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri.

Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat bermain.

Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. “Karena anak akan mengenal nuansa yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah, di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermainbersama, patuh pada guru dan disiplin kelas,” ujar pendidik yang bersama istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak.

Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak “kaget” saat menemui lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.

Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju.
Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.

Santi Hartono. Ferdi/nakita.

These sentences…

“Mau sampe kapan nyusuin??”

“Dah 1tahun lebih masih nenen juga ? Bliin susu kaleng aja.. lebih bagus.. banyak kok vitamin-vitamin nya.. AA, DHA, Magnesium, Kolostrum..”

“Iiiihh.. dah gede masih nenen ? Ntar jadi manja lho.. “

“Waduh.. dah kelamaan.. ntar ga mau lepas gimana ?”

“Jangan diturutin.. dah kasih jamu aja nenen nya.. ntar dia ngerasa pait, ga mau nenen lagi deh..”

“Iiiihh.. gila loe ye.. ga risih apah ?? Udah gede masih dinenen-in”

“Dah ga ada vitaminnya tuh.. cuman aer doang.. bli susu kaleng lah.. dah jelas kandungan-kandungan vitaminnya”

“Wah.. ga bisa ditinggal deh anak lu.. pantesan lu ga bisa pergi kemana-mana kalo ga bawa anak.. payah deh”

 

-no comment-

and I just found this article… 😀
happy reading..

 

******************

 

http://www.abm.me.uk/10toddler.htm

 10 Good Reasons to Breastfeed YOur Toddler

By Elizabeth Bruce

The average American may not be ready to admit it, but myriad cultures past and present have accepted the fact that babies past infancy can benefit from nursing. The !Kung of Africa represent the natural state of human feeding. Mothers of this nomadic tribe breastfeed each child for up to six years. Sherman Silber, MD, points out that

the human species has spent more than 90 percent of its existence leading this type of nomadic hunter/gatherer life, and ‘civilization’ with its pressures is too recent to have had any appreciable impact on their genetic makeup.

In our culture, many men and women are uncomfortable with the functional role of breasts, probably because of our national obsession with breasts as sexual objects. Unfortunately, people’s psychological discomfort seems to increase as the nursing baby grows. Most Americans choose to wean their babies at about six months. Whatever the psychological complexities may be, we can no longer deny the health and social benefits of prolonged breastfeeding. Even the conservative American Academy of Pediatrics now officially recommends that breastfeeding continue for at least 12 months.2 But what about nursing through a baby’s second or even third year? Is breast still best for toddlers? If we can get past our collective ambivalence, I think the answer is a resounding yes.

While most of your neighbours probably aren’t doing it, there are plenty of enlightened mothers out there who are. Alice Bailes, CNM, co-owner of Birth Care and Women’s Health in Alexandria, Virginia, says that the majority of her clients breast­feed well into their babies’ second year. In fact, she has clients who tandem nurse – they continue nursing their toddler through their next pregnancy and even after the new baby is born. Bailes, who has had personal experience tandem nursing, believes that it helps a toddler’s transition into being a big brother or sister.

Of course, the decision to continue nursing is a personal one, and it often is not made until the time comes. Rest assured, according to most moms who have decided to keep going, once you’ve managed to breastfeed through the challenging first year the rest is a breeze. In case you’re still not convinced, I am sharing my top ten reasons to breastfeed your toddler.

Convenience

I must confess that convenience was my number one reason for continuing to breastfeed my babies. OK, call it laziness. For one thing, weaning a baby before he’s ready takes a lot of time and effort. You have to carry messy snacks around and deal with tantrums. Fortunately, by the time the baby turns one, most moms have mastered the art of discretion, so nursing is the easiest thing in the world to do with a minimum of privacy.

Even better, there is no easier way to get a toddler to sleep on your schedule than by nursing him. I always feel sorry for mothers of toddlers who aren’t nursing, because their job is probably a lot harder than mine. If worse comes to worst, I know an induced nap is right around the corner.

Instant Tantrum-tamer

As any parent of a toddler knows, they are naturally insecure creatures. One moment your one year old is happy, and the next she is dissolved in a puddle of tears  seemingly over nothing. Well, surprise! Often the best way to handle your volatile toddler is to briefly treat her like a baby. Take her in your arms, nurse her for a few minutes, and voilà! – your little screamer is transformed into a confident child once again. If you’re at a party when your child melts down, you can discreetly take him or her into another room or to the car. Friends will marvel at your great mothering abilities when you return with a magically transformed, happy toddler.

Less Reliance on “Mommy Substitutes”

The toddler years are peak years for attachment objects like blankets and dolls. The major problem with these objects is that they can be lost. Such an episode can take on tragic proportions. Believe me, I know because my first son never nursed. There’s nothing quite like arriving at a Holiday Inn after a day of traveling with a cranky toddler only to discover you have left the critical object at a rest stop 300 miles back!

Life is too short for all that unnecessary drama. If you are nursing your toddler, you can forget the frantic search for an identical blanket and the Fed-Ex­ing of Barney. With Mommy as the primary security object, you can rest easy on those long family trips. It is basically impossible to lose a breast, no matter how distracted you are! Plus, you never have to steal the beloved object away for a round in the washing machine. Much trauma is spared for all.

Allergy Prevention

My second little boy was so attached to nursing that I became (reluctantly) a toddler nurser. He ate absolutely no solid food until he was 17 months old. Even La Leche League veterans suggested that the situation was, well, unusual. Looking back, I think my baby’s wisdom was in avoiding possible allergens. Studies (as well as anecdotal evidence) indicate that breastfeeding reduces the incidence of allergies.3,4 My first child, who was solely formula-fed, had all sorts of food allergies, including rice and dairy products. In hindsight, my second child’s lengthy, exclusive breastfeeding makes sense. Most likely, it was nature’s way of protecting him from foods his body just was not ready to process. Undoubtedly, some children need longer than others to “outgrow” their allergies, and breastmilk provides the ideal support for their developing immune systems.

Nutrition

Good nutrition is admittedly tricky with toddlers. On some days they cram every morsel offered into their mouths, and other days you can’t coax them to take a bite of even their favourite food. In short, they’re picky eaters, and their appetites are capricious and unpredictable.

One popular myth that even paediatricians promote is that breastfeeding somehow loses its nutritional quality after the first year. In reality, the benefits change, but they are still there. Does it really make sense that after 12 months of providing your baby with optimal nutrition the breasts suddenly get “stupid” and start making something “less than optimal”? Obviously, the addition of solid foods changes the balance, but breastmilk is still an important element in the diet while your baby is sampling what the world has to offer. Certainly, there can be no harm in continuing with nature’s perfect food.

Speech Development

In general, it’s believed that breastfeeding provides better development of the teeth and jaws than sucking a hard, unnaturally shaped nipple.5 Margaret Connor, a 35-year-old mother in Austin, Texas, has discussed the subject at length with her son’s speech therapist. Both of them believe that Connor’s five-year-old son’s speech/motor apraxia would have been worse if his muscles had not been “worked out” through extended nursing. If nothing else, Connor is happy she made the decision she did. “At least I won’t look back and wonder if his articulation would have been better if I had breastfed longer than a year.” she says.

Fighting Dehydration during Illness

Unfortunately, toddlers, breastfed and otherwise, get sick. Some get sick a lot, especially those in child care and those with older siblings. When my 14-month-old son got bronchitis, he wouldn’t eat or drink anything other than breastmilk. Had he not been breastfeeding, the situation could have turned into a nightmare. When a bottle-fed baby gets dehydrated, the parents have to struggle to get oral rehydration products down the child. When this tactic doesn’t work, paediatricians have no choice but to order an IV for the child at the hospital. This is not only traumatic for a toddler, but it also exposes him to other germs that could complicate the original infection. With breastfeeding, you can almost always get the child to nurse, which might even save his life! Further, it comforts the mother. It feels so much better to be able to help your child through illness in a uniquely positive way.

Weight Loss for Mom

It’s accepted that a woman’s body stores up enough fat during pregnancy to exclusively feed her infant for at least the first six months. While there are few studies on this topic, anecdotal evidence suggests that a mother’s weight loss may continue during the second year of nursing a baby. The fact is, Mother Nature never intended for human babies to be weaned from their mothers in the early months, so our bodies make sure we have plenty of fat stored up for years.

For the first year, our bodies seem to like to stay soft, almost like a cushion for the infant. After that time, the weight is not quite so resistant to leaving. The increased calorie requirements of toddlers help the process of weight loss as well. For every day she nurses, a lactating woman uses an extra 500 calories. Personally, I found that stubborn fat stores that had lived on my thighs for years melted away during the second year of nursing.

Delayed Menstruation

For those women using Natural Family Planning or the Fertility Awareness Method for birth control, breastfeeding provides a bonus. Research done by the Kippleys in “The Art of Natural Family Planning” showed that a nursing mother who uses no supplements for the first four to six months gets her first post­partum period on average after 13 to 16 months.6 Among the !Kung tribe, babies are spaced about 48 months apart – all due to exclusive breastfeeding.7 Contrast this with the usual six to eight weeks for a bottle-feeding mother. Naturally, PMS and the other related troubles usually disappear for as long as the periods stay away, and the return of fertility is also put off. In addition, delayed menstruation means decreased exposure to oestrogen, which may protect against cancer of the breast and reproductive organs. Breast cancer risk is associated with earlier menarche and later menopause, which points to estrogen exposure as a risk factor for the disease.8,9

It’s Good for the Planet

Breastfeeding is the best ecological thing going. No cups to wash, no bottles to sterilize, and nothing for the landfill. Postponing the use of cows’ milk helps our planet. Because of their methane gas emissions, cows are major destroyers of the atmosphere.10 Overgrazing of land is responsible for serious ecological troubles, as well. As a bonus, the baby is not exposed to the unhealthy hormones and antibiotics injected into dairy cows.

Like most other mothers of toddlers, I originally continued nursing out of a desire for convenience. Frankly, it was just easier to keep going than to stop. Along the way, I discovered how much simpler continuing to breastfeed made our lives. If at all possible, the transition away from Mommy should be a gradual one, made at the baby’s own pace. Toddler life is difficult enough. Why not make it a little more manageable for everyone?

Elizabeth Bruce, MA, currently stays home with her four children, ages 9, 7, 5, and 2. She’s been breastfeeding for seven years and counting.

Notes

1. Sherman J. Silber, MD, How Not to Get Pregnant (New York: Warner, 1990): 92 – 93.

2. American Academy of Pediatrics, “Breastfeeding and the Use of Human Milk” (Policy Statement), Pediatrics 100 (December 1997): 1035 – 1039.

3. E. E. Ziegler et al., “Cow’s Milk Feeding in Infancy,” Journal of Pediatrics 116 (1990): 11—18.

4. J. N. Strimac and D. S. Chi, “Significance of IgE Level in Amniotic Fluid and Cord Blood for the Prediction of Allergy,” Annals of Allergy 61 (1986): 133 -136.

5. La Leche League International, The Womanly Art of Breastfeeding (New York: Penguin, 1991), 375—376.

6. John and Sheila Kippley, The Art of Natural Family Planning, Third edition (Cincinnati, Ohio: Couple to Couple League, 1991) 201.

7. Sherman J. Silber, MD, How Not to Get Pregnant (New York: Warner, 1990), 92—93.

8. F Grodstein et aI., “Postmenopausal Hormone Therapy and Mortality,” New England Journal of Medicine 336, no.25 (1997): 1769—1775.

9. Ruth Westheimer, MD, Dr. Ruth’s Encyclopedia of Sex (New York: Jerusalem Publishing House, 1994), 56.

10. Pamela Teisler, 101 Reasons Why I’m a Vegetarian (New York: Pamela Teisler, 1 992).

For More Information

Mothering Your Nursing Toddler, by one of the founders of La Leche League, Norma J. Bumgarner, offers support and guidance for toddler nursing. (La Leche League International, 2000)

Breastfeeding and Natural Child Spacing: How Ecological Breastfeeding Spaces Babies, written by Sheila K. Kippley, a founder of the Couple to Couple League, offers practical advice, even if you don’t agree with the moral overtones. (Couple to Couple League, 1999)

Leche League has leaders in practically every community and can be found in the yellow pages. Their website, www.lalecheleague.org contains a new category of articles called “Extended Breast-feeding” (click on “Breastfeeding Information from LLLI Periodicals” to find it).

For additional information about breastfeeding a toddler, see the following articles in past issues of Mothering – “To Wean or Not to Wean?” no. 97; “Breastfeeding Your Older Baby” no. 69.

This article originally appeared in “Mothering” Magazine, issue no. 103, November/December 2000, and is reprinted with kind permission.

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa ?

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?
Oleh: dr Handrawan Nadesul
____________ _________ _________ _________ _
Makanan bayi tentu saja tidak boleh disamakan dengan makanan orang dewasa. Selain saluran pencernaan bayi belum siap menerima segala jenis menu orang dewasa, susunan gigi-geligi, dan sejumlah organ yang terkait dengan pengolahan (metabolisme) makanan yang dikonsumsi belum tentu sudah cukup matang untuk menerimanya. Termasuk segala jenis perasa dalam makanan. Masih bolehkah bayi menerimanya?

KALAU ditanya apakah boleh, jawabannya tentu saja sebaiknya tidak.
Lebih baik tidak menambahkan segala sesuatu sehingga menambah beban tubuh bayi, selain kemungkinan tidak menyehatkan.

Beban memikul asupan garam dapur (NaCl) yang melebihi kemampuan ginjal bayi yang belum kuat memikulnya. Fungsi ginjal bayi belum cukup matang untuk menyisihkan kelebihan mineral dalam garam dapur. Maka segala jenis menu dengan kandungan garam dapur, apalagi yang berlebihan, sebaiknya dijauhkan dari menu harian bayi.

Natrium sudah mencukupi dari bukan garam dapur. Tubuh memang membutuhkan mineral natrium yang dapat diperoleh dari garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika natrium yang terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi. Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur natrium, tanpa perlu menambahkan garam dapur sekalipun. Maka semakin beragam menu bayi (setelah mulai diberikan nasi tim), semakin kecil kemungkinan tubuh bayi terancam kekurangan unsur mineral natriumnya. Betul.
Tubuh tidak boleh sampai kekurangan natrium yang melakukan perannya pada otot dan jantung juga. Sama halnya seperti akibat yang ditimbulkan pasca diare, tubuh mengalami kekurangan unsur natrium yang ekstrim, sehingga bisa saja terjadi renjatan (syok). Maka esktra natrium dari larutan gula-garam atau oralit pada kasus diare memang suatu keharusan. Kekurangan natrium berpengaruh buruk pada tekanan darah juga. Namun kelebihan natrium dalam tubuh, sebagaimana terjadi pada budaya makan serba asin, sama tidak menyehatkannya.

Tubuh rata-rata orang modern, akibat budaya makan asin, cenderung kelebihan natrium dalam tubuhnya sehingga berisiko meninggikan tekanan darah. Darah tinggi orang dengan budaya makan asin, terjadi akibat natrium dalam darah melebihi normal.

Membentuk bukan lidah asin Lidah seseorang dibentuk sejak kecil.

Jika dari bayi tidak dibiasakan mengonsumsi cita rasa asin (banyak takaran garam dapurnya), seterusnya lidah tidak terbiasa menerima rasa asin. Ambang asin lidah terbentuk lebih rendah, sehingga menolak dan merasa tidak nyaman menerima menu yang terlampau asin.

Sebaliknya apabila sejak bayi lidahnya sudah dibentuk cita rasa asin, menu yang dipilih akan cenderung lebih asin dari rata-rata menu normal. Keadaan begini yang dinilai tidak menyehatkan karena akan terbawa sampai sepanjang hayat. Membiasakan bayi cenderung menerima menu yang lebih asin, atau membubuhi garam dapur lebih banyak, akan melahirkan orang dewasa yang lidahnya menagih asin. Kebutuhan garam dapurnya mungkin tiga atau empat kali lipat lebih besar dari orang normal.

Normal, dalam budaya makan asin, tubuh menerima kelebihan garam dapur rata-rata lebih dari tiga kali lipatnya. Kelebihan garam ini yang harus tubuh buang lewat ginjal, selain harus memikul akibat meningginya tekanan darah.

Orang yang berdomisili di pedalaman, suku Eskimo, Indian, Dayak, yang menu hariannya tanpa garam dapur, tidak ditemukan kasus-kasus darah tinggi. Demikian pula suku-suku berumur di atas seratus tahun (centenarian) , menu hariannya sepi dari garam dapur. Dan itu yang sesungguhnya menyehatkan tubuh.

Waspadai camilan

Kita tahu hampir semua camilan dan jajanan cenderung membubuhi garam dapur yang melebihi kebutuhan tubuh. Sehari tubuh hanya membutuhkan natrium kurang dari 5 gram garam dapur. Kalau dihitung, asupan garam dapur rata-rata orang dengan budaya makan asin sekitar 15 Gram
seharinya. Dan itu berasal dari hampir semua menu di luar rumah. Menu restoran, khususnya restoran China, aneka camilan, dan jajanan, garam dapurnya cenderung melebihi kebutuhan tubuh.

Maka seberapa bisa, mengolah menu sendiri di rumah yang ditakar garam dapurnya. Pemerintah Singapura membatasi pemakaian garam dapur pada semua restorannya, sehingga memang cenderung lebih tawar dibanding menu restoran di Indonesia. Dan cara menyehatkan itu yang
menjadi program nasionalnya.

Kita tahu garam dapur dalam kecap, kendati namanya kecap manis, kandungan garam dapurnya juga melebihi kebutuhan tubuh. Padahal kebiasaan makan orang kita cenderung tiada hari tanpa kecap. Maka dari itu, jangan mulai membiasakan bayi berkenalan dengan serba kecap kalau tidak mau nantinya terbiasa menyukai yang serba asin. Apalagi kecap asin. Sekadar saus tomat dan sambal botol pun sudah lebih dari sekadar asin.

Garam sodium rendah

Ya, ada baiknya cita rasa asin, yang memang menambah gurih cita rasa makanan, bisa disiasati dengan membubuhi bukan garam dapur (NaCl), melainkan memilih jenis garam yang kadar natriun (sodium)-nya rendah saja (low sodium salt).

Gula pasir juga tidak menyehatkan
Ya, selain garam dapur, manis dari gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada manis dari madu atau gula merah (gula jawa). Maka kalau pun perlu diberikan manis juga, biarkan manis itu berasal dari bahan alami.

Air tebu sebagai bahan pembuat gula pasir memang pilihan yang menyehatkan. Namun ketika air tebu diolah dan dicampurkan bahan kimiawi untuk membentuk kristal gula pasir, itulah yang menjadikannya tidak menyehatkan lagi. Maka lebih baik memilih gula merah (dari enau, atau kelapa) yang proses pengolahannya tidak menambahkan bahan kimiawi apa pun, selain lebih baik memilih madu.

Soal kaldu, sebetulnya tidak mengapa kalau diberikan untuk bayi.
Namun mitos hebatnya kaldu untuk bayi harus dihapus, oleh karena kandungan kaldu hanyalah didominasi oleh kandungan lemak. Lebih penting memberikan daging ayam, atau daging sapinya ketimbang hanya memberikan kaldu ayam, atau kaldu daging sapinya. Tidak juga cukup hanya memberi ceker ayam, yang juga karena mitos, anak kehilangan kesempatan mendapat protein dari daging ayamnya. Ceker ayam hanya berisi urat dan lemak belaka, kecil saja proteinnya. Padahal yang bayi butuhkan justru protein pada dagingnya.

Kontroversi penambahan AA dan DHA pada makanan bayi

Kontroversi penambahan AA dan DHA pada makanan bayi
08/09/2006 – Dr Widodo Judarwanto SpA

Saat ini sebagian besar susu formula atau makanan bayi selalu ditambah bahan DHA (docosahexaenoic) dan AA (arachidonic acid). Promosi makanan bayi selalu didominasi oleh “ikon” formula kecerdasan tersebut. Orang tua pasti akan terhanyut dengan promosi ini. Sehingga susu dan makanan bayi tanpa bahan tersebut pasti kalah bersaing di pasaran padahal harganya relatif lebih mahal.

Yang lebih tragis rayuan promosi ini, kadang menenggelamkan kehebatan manfaat ASI. Benarkah AA dan DHA berpengaruh terhadap kecerdasan? Amankah pemberian AA dan DHA secara jangka panjang pada bayi dan anak?

British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO(Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur.

Sedangkan Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi, karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan hasil bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak terbukti
manfaatnya untuk kecerdasan bayi.


LATAR BELAKANG PEMBERIAN

Kualitas manusia sangat ditentukan oleh pertumbuhan dan perkembangannya sejak dini. Pemenuhan gizi yang baik dan benar merupakan modal dasar agar anak dapat mengembangkan potensi genetiknya secara optimal. Zat gizi yang diberikan harus tersedia secara tepat baik kualitas maupun kuantitasnya.Mulai dari protein dengan asam aminonya baik yang esensial maupun non-esensiel, sumber kalori, berupa karbohidrat ataupun lemak, vitamin, dan mineral.

 DHA dan AA adalah komponen terbesar dari long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA), merupakan bahan yang sangat penting bagi organ susunan saraf pusat. DHA penting untuk pembentukan jaringan saraf dan sinap,sedangkan AA berperan sebagai neurotransmitter sebagai suatu bentuk asam lemak yang essensial LC-PUFA harus ditambahkan pada makanan.

Asam lemak esensial sebenarnya terdiri dari asam linoleat (AL) atau -linolenic acid” (ALA) sertaa“linoleic acid” (LA), asam linolenat (ALN) atau ” asam arachidonic atau “arachidonic acid” (AA). Asam lemak ini tidak bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari karbohidrat ataupun asam amino.

Asam arachidonic dapat dibuat dari asam linolenat (seri n-6), karenanya yang dianggap sebagai asam lemak esensial hanyalah asam lemak lenolenat dan asam lemak linolenat. Kedua asam lemak esensial ini tidak dapat saling berubah dari yang satu menjadi yang lain serta berbeda baik dalam metabolisme maupun fungsinya, bahkan secara fisiologik keduanya mempunyai fungsi yang berlawanan.

Penelitian pemberian AA/DHA pada bayi prematur terbukti menunjukkan bahwa pemberian LC-PUFA sebagai suplemen dapat meningkatkan kemampuan visual dan perkembangan sistem saraf terutama pada bayi prematur. Proses pembuatan DHA maupun AA difasilitasi oleh enzim desaturase dan elongase. Aktifitas kedua enzim ini masih sangat kurang pada bayi prematur bahkan pada bayi aterm sampai usia 4-6 bulan. Karenanya penambahan DHA dan AA pada bayi prematur lebih relevan diberikan, dengan dosis yang mengacu pada kandungan asam lemak dalam ASI.


PENELITIAN KONTROVERSIAL

Manfaat pemberian AA dan DHA pada bayi cukup bulan dan anak dianggap masih kontroversial. Beberapa penelitian pendahuluan mengklaim bahwa pemberian zat AA dan DHA meningkatkan perkembangan tingkat kecerdasan tertentu dan kemampuan visual anak.

 Sebuah penelitian menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa pakar menilai beberapa penelitian suplementasi AA/DHA tersebut terdapat kelemahan sehingga tampaknya tidak universal dapat digunakan sebagai acuan.

Banyak pakar berpendapat bahwa enzim yang berfungsi untuk proses biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi. Teori inilah yang mematahkan pendapat bahwa AA dan DHA perlu diberikan pada anak dan bayi. Sehingga
banyak penelitian juga mengungkapkan bahwa penambahan DHA dan AA pada susu formula, ternyata tidak terbukti meningkatkan kemampuan penglihatan dan sistem saraf bayi.

Hasil penelitian Ross Paediatric Lipid Study di Amerika Serikat pada tahun 1997 yang menunjukkan tidak adanya perbedaan pertumbuhan dan fungsi penglihatan pada bayi yang diberi DHA dan AA di 12 bulan pertama.

American Council on Science and Health juga menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penambahan DHA dan AA pada formula untuk bayi yang lahir normal. Demikian juga penelitian yang dilakukan David dkk ternyata pemberian AA dan DHA tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada Bayley Mental Scale, Bayley Motor Scale, Vocabulary Comprehension andProduction Scale.

Meskipun demikian Food and Drug Administration (FDA) memberikan ijin kepada Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan
susu formula dengan suplementasi AA/DHA pada tahun 2002. Harganya sekitar 20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi.


WASPADAI PEMBERIAN AA DAN DHA

Pada bayi cukup bulan atau anak besar pemberian suplemen DHA dan AA perlu diteliti lebih jauh mengingat adanya kemungkinan efek samping yang belum terdeteksi dan teruji. Pemberian lemak yang berlebihan dapat menyebabkan kegemukan, serta penyakit jantung bahkan dapat menimbulkan keganasan; dapat meningkatkan kadar kolesterol, dan LDL yang dapat memacu terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.

 Hal ini sangat tergantung pada jumlah energi yang berasal dari lemak, komposisi dari asam lemaknya, komposisi dari lipoprotein, diet serat yang dikonsumsi, antioksidan, aktifitas, serta derajat kesehatannya. Pada anak yang tidak aktif konsumsi lemak tidak boleh melebihi dari 30% kebutuhan energi. .

Penelitian yang dilakukan penulis terhadap 256 bayi dengan riwayat alergi yang melakukan rawat jalan di Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta didapatkan 34 (13%) bayi mengalami reaksi simpang terhadap AA dan DHA.

Setelah dilakukan eliminasi provokasi susu formula AA/DHA dan susu tanpa AA/DHA dengan jenis yang sama. Gejala yang ditimbulkan karena pengaruh reaksi simpang tersebut antara lain adalah dermatitis, batuk dan gangguan saluran cerna berupa muntah, diare atau konstipasi.

Reaksi simpang makanan yang berlangsung lama bukan hanya mengganggu pertumbuhan tetapi juga mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak seperti hiperaktif, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan belajar dan gangguan perilaku lainnya.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun pada makanannya perlu dipertimbangkan lebih cermat. Pada bayi yang aterm ataupun anak besar sudah dapat mensintesa DHA maupun AA dari LC-PUFA sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan pemberian DHA yang berlebihan dapat menekan proses pembentukan AA, serta dapat menekan aktifitas ensim siklooksigenase yang memfasilitasi pembentukan prostaglandin PGH2 dan PGH3 dari AA, sehingga dapat menghambat pembentukan prostaglandin berikut tromboksan dan leukotrin, dapat menyebabkan terhambatnya respons terhadap proses keradangan khususnya pada pelepasan interleukin-1 dan TNF, memanjangnya masa perdarahan, menurunnya renin yang turut dalam pengontrolan fungsi ginjal.

Overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda.

Bagaimana orang tua untuk menyikapinya untuk masalah ini? Pertimbangan utama dalam pemilihan susu formula yang terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi anak dan tidak mengakibatkan reaksi simpang yang mengganggu fungsi organ tubuhnya.

Pertimbangan lain adalah masalah harga harus disesuaikan dengan ekonomi keluarga serta kesediaan barang dan distribusi yang berkelanjutan di pasaran. Kandungan zat tambahan (AA, DHA, dll), harga mahal, disukai bayi dan merek terkenal bukanlah pertimbangan utama dalam pemilihan susu formula pada anak.

Secara umum semua susu formula yang beredar resmi di Indonesia kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tetapi apapun juga, yang pasti ASI masih tetap yang terbaik.

Dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CENTER, Rumah Sakit Bunda Jakarta
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN ANAK),
Jl Rawasari selatan 50 Cempaka Putih Jakarta Pusat
Telepon : (021) 4264126-(021) 70081995-(021) 31922005       
 

Susu Bubuk ( Baca : Susu Formula Untuk Bayi )

Ide awal formulasi dari susu bubuk formula bayi adalah membuat pengganti ASI dengan komposisi sedapat mungkin menyerupai ASI, dari susu sapi yang ditujukan untuk bayi2 yang tidak bisa mendapatkan ASI.
Karena bayi dibawah satu tahun belum dapat mencerna secara langsung susu sapi dengan kadar lemak yang cukup tinggi, sehingga bahan dasarnya skimmilk ditambahkan lemak nabati. Skimmilk diperoleh dengan memisahkan lemak susu dari susu murni, dan lemaknya jadi bahan baku butter.

Kadar vitamin larut lemak dalam skimmilk rendah sekali, sehingga untuk meningkatkan kadar lemak di fortifikasi lagi dengan vitamin2 tambahan. Disamping itu proses pengeringan susu bubuk sendiri menurunkan kandungan vitamin yang tidak tahan suhu tinggi, hal ini juga penyebab perlunya penambahan vitamin kedalam susu bubuk.

Demikian pula tambahan lemak nabati (linolenat-linoleat,DHA,AA) dimasukkan kedalam susu formula dengan tujuan membuat sedekat mungkin mirip fungsi/daya guna ASI. Formulasinya sendiri cukup rumit rumus standard hitungannya untuk bisa memperoleh komposisi susu formula seideal mungkin, yang selanjutnya dianalisa metabolisma zat gizinya baik secara in vito maupun in vivo, dan sukarelawan.

Adalah MISCONCEPTION jika dinyatakan bahwa kandungan susu bubuk formula bayi lebih baik dari susu UHT cair. Ini perbandingan yg tidak Apple to Apple. Beda tujuan penggunaan.
Kenapa disarankan bayi/balita diatas 1 thn susu UHT sudah
cukup dan fortifikasi vitamin bisa dengan mengkonsumsi makanan aslinya?

Banyak hal…

 1.Sumber vitamin dan mineral yang baik adalah makanan alami, karena pada dasarnya pencernaan manusia siap menerima asupan makanan natural.
Pencernaan bayi diatas 1 tahun sudah disiapkan untuk mulai mencerna makanan.
Tentu saja diberikan bertahap pengenalannya. Bayi perlu mengenal jenis dan rasa secara awal berbagai makanan supaya memorinya tentang jenis dan rasa makanan cukup banyak. Hal ini penting untuk adaptasi selera. Sulit dilakukan adaptasi selera jika sudah terlanjur besar, contohnya banyak anak yang sulit sekali makan sayuran.

2. Penghematan sumberdaya, harga yang harus dibayar untuk susu formula jauh diatas harga susu cair. Susu Pasteurisasi terbaik, karena diolah dengan panas rendah, tanpa pengawet, hanya saja resiko penyimpanan (masa expired singkat, harus dalam refrigerator), tidak mudah mencapai segala kalangan dan lokasi pengiriman/distribusi terbatas. Susu UHT juga baik, diolah dengan panas tinggidengan waktu sangat singkat, tanpa pengawet, lebih tahan simpan tidak perlu refrigerator selama kemasan belum dibuka dan kemasan tidak berubah bentuk (tidak kembung/bocor).
Kalau dibandingkan dari ketiga proses pengawetan susu dengan thermal/
suhu tinggi, yang paling urutan potensi rusaknya vitamin dalam susu adalah:
1. Pembuatan susu bubuk
2. Pembuatan UHT
3. Pasteurisasi
  

 Sehingga kenapa ada proses fortifikasi vitamin kedalam susu bubuk utk meningkatkan potensinya. Misconception yang sering terjadi, kandungan vitamin dan tambahan2an asamlemak (linoleat, linolenat,AA, DHA) susu bubuk formula lengkap sekali. Jadi seakan2 harus minum susu formula meskipun sudah diatas 1 tahun. Padahal susu bubuk formula banyak vitamin difortifikasi, untuk menggantikan banyak vitamin yang hilang dalam proses pengeringan bubuk susunya dan penggunaan campuran skimmilknya menurunkan kandungan asli vitamin larut lemak dalam susu formula.

 

http://202.158.52.141/forum/forum_detail.asp?catid=&id=38&topicid=5677

 


February 2020
M T W T F S S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
242526272829  

Previously On erNie’s

RSS Lately News…

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.