Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa ?

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?
Oleh: dr Handrawan Nadesul
____________ _________ _________ _________ _
Makanan bayi tentu saja tidak boleh disamakan dengan makanan orang dewasa. Selain saluran pencernaan bayi belum siap menerima segala jenis menu orang dewasa, susunan gigi-geligi, dan sejumlah organ yang terkait dengan pengolahan (metabolisme) makanan yang dikonsumsi belum tentu sudah cukup matang untuk menerimanya. Termasuk segala jenis perasa dalam makanan. Masih bolehkah bayi menerimanya?

KALAU ditanya apakah boleh, jawabannya tentu saja sebaiknya tidak.
Lebih baik tidak menambahkan segala sesuatu sehingga menambah beban tubuh bayi, selain kemungkinan tidak menyehatkan.

Beban memikul asupan garam dapur (NaCl) yang melebihi kemampuan ginjal bayi yang belum kuat memikulnya. Fungsi ginjal bayi belum cukup matang untuk menyisihkan kelebihan mineral dalam garam dapur. Maka segala jenis menu dengan kandungan garam dapur, apalagi yang berlebihan, sebaiknya dijauhkan dari menu harian bayi.

Natrium sudah mencukupi dari bukan garam dapur. Tubuh memang membutuhkan mineral natrium yang dapat diperoleh dari garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika natrium yang terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi. Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur natrium, tanpa perlu menambahkan garam dapur sekalipun. Maka semakin beragam menu bayi (setelah mulai diberikan nasi tim), semakin kecil kemungkinan tubuh bayi terancam kekurangan unsur mineral natriumnya. Betul.
Tubuh tidak boleh sampai kekurangan natrium yang melakukan perannya pada otot dan jantung juga. Sama halnya seperti akibat yang ditimbulkan pasca diare, tubuh mengalami kekurangan unsur natrium yang ekstrim, sehingga bisa saja terjadi renjatan (syok). Maka esktra natrium dari larutan gula-garam atau oralit pada kasus diare memang suatu keharusan. Kekurangan natrium berpengaruh buruk pada tekanan darah juga. Namun kelebihan natrium dalam tubuh, sebagaimana terjadi pada budaya makan serba asin, sama tidak menyehatkannya.

Tubuh rata-rata orang modern, akibat budaya makan asin, cenderung kelebihan natrium dalam tubuhnya sehingga berisiko meninggikan tekanan darah. Darah tinggi orang dengan budaya makan asin, terjadi akibat natrium dalam darah melebihi normal.

Membentuk bukan lidah asin Lidah seseorang dibentuk sejak kecil.

Jika dari bayi tidak dibiasakan mengonsumsi cita rasa asin (banyak takaran garam dapurnya), seterusnya lidah tidak terbiasa menerima rasa asin. Ambang asin lidah terbentuk lebih rendah, sehingga menolak dan merasa tidak nyaman menerima menu yang terlampau asin.

Sebaliknya apabila sejak bayi lidahnya sudah dibentuk cita rasa asin, menu yang dipilih akan cenderung lebih asin dari rata-rata menu normal. Keadaan begini yang dinilai tidak menyehatkan karena akan terbawa sampai sepanjang hayat. Membiasakan bayi cenderung menerima menu yang lebih asin, atau membubuhi garam dapur lebih banyak, akan melahirkan orang dewasa yang lidahnya menagih asin. Kebutuhan garam dapurnya mungkin tiga atau empat kali lipat lebih besar dari orang normal.

Normal, dalam budaya makan asin, tubuh menerima kelebihan garam dapur rata-rata lebih dari tiga kali lipatnya. Kelebihan garam ini yang harus tubuh buang lewat ginjal, selain harus memikul akibat meningginya tekanan darah.

Orang yang berdomisili di pedalaman, suku Eskimo, Indian, Dayak, yang menu hariannya tanpa garam dapur, tidak ditemukan kasus-kasus darah tinggi. Demikian pula suku-suku berumur di atas seratus tahun (centenarian) , menu hariannya sepi dari garam dapur. Dan itu yang sesungguhnya menyehatkan tubuh.

Waspadai camilan

Kita tahu hampir semua camilan dan jajanan cenderung membubuhi garam dapur yang melebihi kebutuhan tubuh. Sehari tubuh hanya membutuhkan natrium kurang dari 5 gram garam dapur. Kalau dihitung, asupan garam dapur rata-rata orang dengan budaya makan asin sekitar 15 Gram
seharinya. Dan itu berasal dari hampir semua menu di luar rumah. Menu restoran, khususnya restoran China, aneka camilan, dan jajanan, garam dapurnya cenderung melebihi kebutuhan tubuh.

Maka seberapa bisa, mengolah menu sendiri di rumah yang ditakar garam dapurnya. Pemerintah Singapura membatasi pemakaian garam dapur pada semua restorannya, sehingga memang cenderung lebih tawar dibanding menu restoran di Indonesia. Dan cara menyehatkan itu yang
menjadi program nasionalnya.

Kita tahu garam dapur dalam kecap, kendati namanya kecap manis, kandungan garam dapurnya juga melebihi kebutuhan tubuh. Padahal kebiasaan makan orang kita cenderung tiada hari tanpa kecap. Maka dari itu, jangan mulai membiasakan bayi berkenalan dengan serba kecap kalau tidak mau nantinya terbiasa menyukai yang serba asin. Apalagi kecap asin. Sekadar saus tomat dan sambal botol pun sudah lebih dari sekadar asin.

Garam sodium rendah

Ya, ada baiknya cita rasa asin, yang memang menambah gurih cita rasa makanan, bisa disiasati dengan membubuhi bukan garam dapur (NaCl), melainkan memilih jenis garam yang kadar natriun (sodium)-nya rendah saja (low sodium salt).

Gula pasir juga tidak menyehatkan
Ya, selain garam dapur, manis dari gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada manis dari madu atau gula merah (gula jawa). Maka kalau pun perlu diberikan manis juga, biarkan manis itu berasal dari bahan alami.

Air tebu sebagai bahan pembuat gula pasir memang pilihan yang menyehatkan. Namun ketika air tebu diolah dan dicampurkan bahan kimiawi untuk membentuk kristal gula pasir, itulah yang menjadikannya tidak menyehatkan lagi. Maka lebih baik memilih gula merah (dari enau, atau kelapa) yang proses pengolahannya tidak menambahkan bahan kimiawi apa pun, selain lebih baik memilih madu.

Soal kaldu, sebetulnya tidak mengapa kalau diberikan untuk bayi.
Namun mitos hebatnya kaldu untuk bayi harus dihapus, oleh karena kandungan kaldu hanyalah didominasi oleh kandungan lemak. Lebih penting memberikan daging ayam, atau daging sapinya ketimbang hanya memberikan kaldu ayam, atau kaldu daging sapinya. Tidak juga cukup hanya memberi ceker ayam, yang juga karena mitos, anak kehilangan kesempatan mendapat protein dari daging ayamnya. Ceker ayam hanya berisi urat dan lemak belaka, kecil saja proteinnya. Padahal yang bayi butuhkan justru protein pada dagingnya.

8 Responses to “Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa ?”


  1. 1 gasol May 6, 2010 at 11:07 am

    iya betul anakku sekarang 10 bulan sama sekali belum pernah makan garam tapi suka aku kasih keju….

  2. 2 Eka Parida Pasaribu May 25, 2010 at 3:49 pm

    Anak pertama dan kedua ku sejak mengenal bubur susu maupun nasi tim, tidak pernah ku beri garam dan penyedap rasa, sebagai pengganti rasa asin, saya mencampur keju pada makanannya. Baru setelah 1 tahun 2 bulan, saya beri sedikit garam. Puji Tuhan perkembangan anak pertama dan kedua ku sehat.

  3. 3 Irma yunita April 10, 2011 at 9:05 pm

    Blh gk doktr bayi diberi minum air gula merah aren n rebusan air beras. Kt doktr ank sepupu sy blh. Tp sy tdk yakin. Tlg ya doktr d jwb. Krn pnasaran. Kok gt?

  4. 4 ernie mommy chloe April 13, 2011 at 11:54 pm

    mba irma.. saya bukan dokter .. tp itu tulisan si dokter, saya copas di sini.. kan ada tuh saya tulis sumbernya di kiri atas deket judulnya…
    kalo menurut saya, dalam masa ASIX, jgn kasih apa2 kecuali ASI. nanti sudah 1thn.. baru bole yang lainnya.. tp jgn lgs dikasih smua.. icip2 dikit2 dulu… gula aren kan manis.. kerja ginjal nanti jadi berat.. rebusan air beras=tajin ya ? kl belum umur 6bulan, ASI aja..
    smoga membantu..

  5. 5 lia puji dewi March 4, 2012 at 5:40 am

    yah.. Ak blm tau ini. Prnah ngash tmbhn gula bwt obat bayi ku. Thanx infonya

  6. 6 dea January 4, 2013 at 10:49 am

    memberikan penerangan tentang bahaya garam dan gula. tapiiiiii….. jadi pengen tau sebetulnya lidah bayi merasakan apa ya kali diberikan makanan hambar?

  7. 7 Mami de'Coni June 27, 2014 at 10:51 am

    de’Coni (23Ms) sampai sekarang menu makan/minumnya belum aq kasih tambahan garam/gula, tambahannya cuma keju. InsyaAllah 24Ms (July 4) bisa bebas makan! yey!!
    !

  8. 8 Fauzi September 7, 2016 at 8:39 am

    Waduhhh..kesalahan patal dong.aku kalo bikin bubur suka menambahkan garam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Previously On erNie’s

RSS Lately News…

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: