USUS KUAT BERKAT MAKANAN BERTAHAP

Dilarang memberi bayi makan sembarangan.

Sistem pencernaan bayi belum sepenuhnya berfungsi seperti sistem pencernaan orang dewasa. Sistem pencernaannya masih mem-butuhkan proses penyesuaian. Dimulai dengan proses belajar mengecap dan mengunyah, lalu menelan. Diteruskan dengan proses di dalam lambung, lalu ke usus dua belas jari, berlanjut ke usus halus untuk mentransfer sari makanan ke seluruh sel tubuh, dan ampas makanan akan mengalami pembusukan di usus besar sebelum akhirnya dikeluarkan.

Poses pembelajaran sistem pencernaan dimulai sejak detik pertama kehidupan bayi di dunia. Tepatnya, saat pertama kali si kecil memperoleh ASI. Dengan ASI, proses belajar mencerna akan dilalui dengan lancar.
Komposisi ASI tercipta sedemikian rupa sehingga begitu pas dengan kebutuhan bayi dan memungkinkan proses penguraian dalam sistem pencernaannya berjalan mulus. Selama itulah sistem pencernaan bayi belajar secara bertahap hingga bertambah “pandai”. Apa ukuran “kepandaian” sistem pencernaan? Ukurannya adalah pertumbuhan
jonjot-jonjot di dalam ususnya.

Jonjot adalah sejenis bulu-bulu halus yang ada di dalam usus dan berfungsi sebagai penerima dan penyalur pertama zat gizi yang didapatkan anak ke seluruh tubuh. Pada prinsipnya, semakin panjang jonjot maka akan semakin mampu usus bayi mengolah makanan bertekstur padat. Sebaliknya, asupan makanan dan minuman yang tepat juga menstimulasi jonjot-jonjot tersebut untuk makin bertambah panjang. Kata-kata “asupan yang tepat” itu mesti digarisbawahi karena asupan yang tidak tepat justru akan menyebabkan jonjot-jonjot usus bayi tidak terstimulasi dan bahkan dapat memberikan dampak buruk pada sistem pencernaannya.

Lantaran itu, saran dr. H. Budi Purnomo, Sp.A(K)., sebelum jonjot-jonjot usus bayi siap, jangan dulu memberinya makanan pendamping ASI (MPASI) karena ia belum mampu mencernanya. Jadi, kapan tepatnya sistem
pencernaan bayi siap menerima MPASI? Dahulu, para ahli pernah mengatakan, di usia 4 bulan jonjot-jonjot usus si kecil sudah lebih panjang sehingga sistem pencernaan bayi sudah lebih siap menguraikan dan mengantarkan zat gizi selain ASI. Namun penelitian terbaru membuktikan, pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan membuat kemampuan sistem pencernaannya lebih matang dan siap untuk bekerja ekstra menguraikan makanan yang lebih padat daripada ASI. Jadi MPASI sebaiknya baru diberikan saat si kecil sudah berusia 6 bulan.

TAHAPAN MAKAN

Memperkenalan MPASI pada bayi pun mesti bertahap. Seperti apa step-step dalam menstimulasi sistem pencernaan bayi itu, berikut penjelasan dari dokter yang mendalami ilmu gastro, haepto, dan nutrisi ini:

* Lepas usia 6 bulan, bayi mulai dilatih dengan memberinya bubur susu yang diberikan selama kurang lebih 4 minggu. Perhatikan apakah dalam tahap ini bayi mengalami masalah atau tidak. Contoh, apakah si kecil mengalami kesulitan mengecap atau menelan, misalnya. Apakah fesesnya jadi keras atau tidak.

* Bila semuanya berjalan baik, si kecil bisa diperkenalkan pada tahap tim saring. Jenis makanan ini akan menstimulasi kerja jonjot menjadi lebih kuat, lebih aktif dan membuat pertumbuhannya makin sempurna.

* Menginjak 9 bulan si kecil sudah bisa makan tim kasar (tidak disaring). Makanan semipadat ini pun akan membuat jonjot-jonjot usus bayi terangsang untuk tumbuh lebih sempurna sehingga bisa mencapai ukuran jonjot manusia dewasa.

* Nah, saat bayi berusia 1 tahun, jika tidak ada masalah apa pun, anak sudah bisa dibiasakan untuk makan makanan keluarga (nasi dan lauk terpisah) karena sistem pencernaannya makin sempurna.

Adalah wajar bila dalam masa pembelajaran ini bayi mengalami kendala. Namanya juga masih belajar. Yang diwanti-wanti Budi, bila ada suatu kendala, jangan memilih untuk menyelesaikannya dengan jalan pintas. Jika  si kecil tampak kesulitan menelan bubur susunya atau selalu melepehnya sehingga proses makannya jadi lama, sekali lagi ini adalah wajar. Saran Budi, jangan langsung mengganti bubur susu tersebut dengan susu formula. Solusi ini kurang bijak, sebab meski kebutuhan kalori si kecil tercukupi, tetapi sistem pencernaannya jadi tidak belajar. Rahangnya tidak terlatih untuk mengunyah makanan karena ia hanya menelan asupan yang selalu berbentuk cair. “Inilah salah satu yang menyebabkan anak mengemut makanan. Ia sebenarnya bingung harus diapakan makanan yang diterimanya ini,” papar Budi. Intinya, kesabaran orangtua tetap dituntut dalam menstimulasi sistem pencernaan bayi.

Jika tahapan-tahapan stimulasi ini dilakukan dengan tepat, kesiapan dan pertumbuhan sistem percernaan bayi pun akan menjadi optimal. Dampak positifnya, kejadian-kejadian seperti sembelit, mencret, dan permasalahan perut lainnya bisa diminimalisasi.

sumber: nakita

0 Responses to “USUS KUAT BERKAT MAKANAN BERTAHAP”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Previously On erNie’s

RSS Lately News…

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: